Gue tahu rasanya. Jam sebelas malam, tugas numpuk, tapi tangan masih scrolling HP buka-buka portal berita. Entah cari apa. Yang ada malah tambah pusing, tambah cemas, besok pagi kuliah ngantuk. Kalau kamu mahasiswa perantau yang ngerasain hal yang sama, kamu nggak sendirian. Dari obrolan di grup angkatan sampai curhat di kolong kasur kos, ada beberapa pertanyaan soal berita yang kayaknya selalu muncul. Gue rangkum di sini, plus jawaban yang gue dapat dari pengalaman sendiri dan dari teman-teman yang udah lewat fase panik berita.
“Kenapa sih gue selalu cemas tiap buka berita?”
Ini pertanyaan nomor satu. Jawabannya sederhana tapi nggak enak didengar: karena kamu nggak punya batas. Buka HP jam berapa aja, berita masuk terus. Nggak ada jam tutup, nggak ada hari libur. Dulu waktu masih di rumah, orang tua sering nyetel TV cuma pas jam makan. Sekarang? Notifikasi masuk 24 jam, dan otak kita dipaksa mikir terus-terusan kayak lagi siaga perang.
Baca juga: Ketinggalan Kereta Gara-Gara Berita Viral, Ini Pelajaran buat Traveler
Gue pernah seminggu penuh ngecek berita bencana tiap dua jam. Padahal gue nggak bisa ngapa-ngapain dari kamar kos. Hasilnya cuma satu: tidur jadi susah, kuliah nggak fokus. Coba deh, sadar nggak kalau yang bikin cemas itu bukan beritanya, tapi frekuensi kamu buka beritanya? Coba batasi dua kali sehari, pagi dan malam. Rasain bedanya seminggu.
“Gimana caranya tahu berita itu beneran atau hoaks?”
Pertanyaan klasik. Jawaban gue: jangan percaya sama satu sumber. Titik. Kalau ada berita heboh di grup WhatsApp keluarga — iya, grup yang isinya pesan “sebarkan sebelum dihapus” itu — cek dulu ke minimal dua media besar. Kalau nggak ada yang nulis, berarti ada yang aneh.
Ada trik kecil yang gue pakai: lihat tanggalnya. Banyak berita lama yang didaur ulang dan disebar kayak baru. Lihat juga fotonya, kadang foto kejadian di luar negeri dipakai buat berita lokal. Dan yang paling penting, baca sampai habis. Judul sering dibikin lebay, isinya biasa aja. Kalau kamu cuma baca judul, ya kamu cuma dapet lebay-nya doang.
Hoaks itu kayak tetangga yang suka gosip: makin sering didengerin, makin susah dibedain mana yang bener.
“Gue harus peduli berita apa aja sih, sebagai perantau?”
Nggak semua berita harus kamu konsumsi. Ini yang sering bikin mahasiswa perantau kelelahan: ngerasa wajib tahu semuanya. Padahal nggak. Ada tiga kategori yang menurut gue penting buat kamu:
- Berita lokal kota kamu kuliah. Ini sering dilupain. Info banjir, demo, penutupan jalan, kenaikan tarif angkutan — semua ini ngaruh langsung ke hidup kamu. Follow akun berita lokal kotamu, bukan cuma media nasional.
- Berita kampus dan beasiswa. Ketinggalan info beasiswa gara-gara nggak baca pengumuman itu nyesek banget. Percaya deh, ada temen gue yang baru tahu ada beasiswa sebulan setelah ditutup.
- Berita yang beneran ngubah hidup kamu. Kebijakan transportasi, harga kos, aturan KTP. Sisanya? Berita selebriti, drama politik yang nggak ada ujungnya, konflik artis — boleh dibaca buat hiburan, tapi jangan jadi konsumsi utama.
Yang boleh kamu skip tanpa rasa bersalah
Berita viral yang isinya cuma emosi. Berita yang bikin kamu marah tapi nggak bisa kamu apa-apain. Berita yang kamu baca cuma biar nggak ketinggalan obrolan di grup. Kadang “nggak tahu” itu pilihan yang sehat, lho. Kamu nggak wajib update semua drama di internet.
“Gimana biar nggak kecanduan scrolling berita?”
Jujur aja, ini yang paling susah. Berita didesain bikin kamu terus klik: judul provokatif, berita terkait, rekomendasi tanpa henti. Tapi ada beberapa hal yang lumayan ngebantu dari pengalaman gue:
Pertama, matiin notifikasi berita. Semua. Kamu yang cari berita, bukan berita yang nyari kamu. Kedua, tentuin jam baca berita. Gue pilih pagi sebelum kuliah dan malam setelah makan. Di luar itu, HP gue mode senyap. Ketiga, kalau lagi baca berita dan dada mulai sesak, tutup. Serius, tutup. Nggak ada berita yang lebih penting dari kesehatan mental kamu.
Keempat, cari teman ngobrol. Kadang yang kita butuhin bukan berita baru, tapi ruang buat ngeluarin uneg-uneg. Kalau ada berita yang bikin kamu kepikiran, cerita ke teman sekamar atau teman satu grup. Kadang setelah ngobrol, masalahnya kelihatan lebih kecil dari yang dibayangkan.
Opini gue yang mungkin nggak populer
Gue nggak setuju sama anggapan “mahasiswa harus melek berita 24 jam”. Melek berita itu bukan berarti baca semua hal tiap hari. Melek berita artinya kamu tahu cara nyaring informasi, tahu kapan harus peduli, dan tahu kapan harus berhenti. Mahasiswa perantau udah cukup berat beban hidupnya — jauh dari rumah, ngatur uang sendiri, ngejar IPK. Nambah beban dengan konsumsi berita tanpa batas itu bukan keren, itu cuma bikin capek.
Jadi kalau kamu ngerasa cemas tiap buka HP, coba tanya balik: berita ini bikin hidup gue lebih baik, atau cuma bikin gue nggak bisa tidur? Kalau jawabannya yang kedua, ya udah, tutup aja. Besok masih ada berita lain, dan kamu masih punya hidup yang harus dijalanin.