Jam menunjukkan pukul 05.40 pagi. Kereta gue ke Surabaya berangkat 06.05 dari Stasiun Pasar Senen. Harusnya masih aman, kan? Ternyata enggak. Gue berdiri di tengah antrean boarding sambil mata masih nempel di layar HP, scroll timeline, baca satu berita viral soal keributan di sebuah kafe. Seru banget ceritanya. Ada video, ada komentar pedas, ada update terbaru tiap lima menit.
Lima menit kemudian gue sadar antrean udah habis. Gerbang boarding ditutup. Petugas manggil nama gue lewat speaker. Dan gue, orang dewasa 28 tahun yang udah naik kereta puluhan kali, lari lintang-pukang di stasiun kayak tokoh film komedi. Untung masih kejar di detik-detik akhir. Tapi pelajaran yang gue dapat hari itu nggak cuma soal disiplin waktu.
Berita Viral Itu Candu yang Nggak Kelihatan
Gue sadar kebiasaan ini bukan cuma sekali. Waktu nunggu pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, gue pernah kelewat panggilan boarding karena asyik baca thread berita soal artis yang dilaporkan ke polisi. Waktu di terminal bus di Yogyakarta, gue hampir naik bus jurusan yang salah karena mata masih nyangkut di notifikasi berita soal bencana alam yang ternyata hoaks.
Baca juga: Data Paylater Masuk SLIK OJK, Nunggak Bisa Ganggu KPR
Masalahnya, berita viral itu dirancang buat bikin kamu berhenti. Algoritma tahu persis kapan kamu bosan, kapan kamu harus dikasih kejutan, kapan kamu harus dibuat marah. Buat traveler yang lagi di perjalanan, ini kombinasi berbahaya. Kamu punya waktu kosong, HP di tangan, sinyal lumayan, dan otak yang pengin hiburan ringan. Boom. Dua jam hilang.
Yang lebih parah, gue sering enggak sadar udah scroll berapa lama. Niatnya cuma "cek sebentar," eh tau-tau udah 40 menit dan kopi di tangan udah dingin. Kalau lagi di bandara atau stasiun, 40 menit itu bisa berarti ketinggalan kereta, salah gate, atau kehilangan momen penting kayak panggilan boarding yang cuma diumumin sekali.
Berita viral itu bukan cuma soal informasi. Dia soal perhatian. Dan perhatian kamu, especially saat traveling, itu sumber daya yang mahal.
Tiga Hal yang Gue Pelajari Setelah Kejadian Itu
1. Notifikasi itu musuh diam-diam traveler
Gue bukan orang yang anti teknologi. Tapi setelah kejadian di Pasar Senen, gue matiin semua notifikasi berita di HP. Bukan cuma yang bunyi, tapi juga yang muncul di lock screen. Alasannya simpel: setiap notifikasi adalah ajakan buat buka HP. Dan setiap kali buka HP, ada peluang 70 persen gue bakal scroll lebih lama dari yang gue rencanain.
Buat kamu yang sering traveling, coba deh cek pengaturan notifikasi kamu sekarang. Berapa banyak aplikasi berita, media sosial, dan grup chat yang boleh ganggu kamu? Kalau lebih dari lima, itu udah terlalu banyak. Gue sendiri sekarang cuma nyisain notifikasi buat aplikasi transportasi, dompet digital, dan chat keluarga. Sisanya? Mode senyap.
2. Baca berita itu butuh "slot waktu" khusus
Ini pelajaran kedua yang cukup mengubah kebiasaan gue. Dulu gue baca berita kapan aja, di mana aja, sambil ngapain aja. Sekarang enggak. Gue kasih slot khusus, biasanya 20-30 menit setelah sarapan atau sebelum tidur. Di luar itu, gue enggak buka aplikasi berita.
Kenapa penting buat traveler? Karena saat traveling, fokus kamu itu terbatas. Kamu harus waspada soal gate, jadwal, barang bawaan, dan orang sekitar. Kalau otak kamu dipenuhi drama berita viral, kapasitas buat waspada berkurang. Ini bukan teori klenik, ini pengalaman gue sendiri. Waktu gue terlalu banyak baca berita viral di bandara, gue jadi lebih gampang panik, lebih gampang salah baca papan informasi, dan lebih gampang lupa naruh barang.
Yang Lebih Penting: Bedain Berita dan Drama
Ini bagian yang mungkin agak sensitif, tapi gue rasa perlu dibahas. Banyak banget yang kita konsumsi sebagai "berita" sebenarnya lebih mirip drama sinetron. Ada konflik, ada tokoh antagonis, ada plot twist, ada komentar netizen yang bikin emosi. Tapi informasi yang benar-benar berguna buat hidup kita? Sedikit.
Buat traveler, kemampuan bedain ini krusial. Berita soal cuaca ekstrem di kota tujuan kamu? Itu berita. Berita soal dua selebgram yang saling sindir? Itu drama. Berita soal perubahan jadwal kereta atau penutupan bandara? Berita. Berita soal artis yang ketahuan selingkuh? Drama.
Gue bukan bilang kamu enggak boleh baca drama. Silakan aja, kadang menghibur. Tapi jangan sampai drama menggeser berita yang benar-benar kamu butuhin saat di perjalanan. Jangan sampai kamu hafal kronologi perseteruan dua orang yang enggak kamu kenal, tapi enggak tahu kalau ada demo di rute yang mau kamu lewatin.
Hal Kecil yang Gue Lakuin Sekarang Sebelum Berangkat
Setelah beberapa kali kejadian, gue bikin semacam ritual kecil sebelum traveling. Simpel aja, enggak sampai 10 menit:
- Cek berita lokal tujuan lewat situs resmi atau media kredibel, bukan dari grup chat atau akun gosip. Gue cari info soal cuaca, kondisi jalan, atau kejadian penting yang bisa mempengaruhi perjalanan.
- Matikan autoplay video di semua aplikasi. Video pendek itu penyebab utama gue kehilangan waktu tanpa sadar.
- Set alarm pengingat 30 menit sebelum jadwal boarding atau keberangkatan. Ini pengaman terakhir kalau gue udah kelewat asyik baca sesuatu.
- Taro HP di tas saat antre boarding. Kedengeran berlebihan, tapi ini yang paling efektif buat gue.
Gue enggak bilang ini bakal cocok buat semua orang. Tapi buat gue yang gampang tergoda scroll, ritual kecil ini nyelametin gue dari setidaknya tiga potensi ketinggalan transportasi dalam setahun terakhir.
Yang paling penting, gue jadi sadar bahwa berita itu alat, bukan hiburan utama. Dia ada buat bikin kita lebih siap, bukan buat bikin kita lupa waktu. Dan buat kamu yang sering traveling, kesadaran ini bisa jadi selisih antara naik kereta dengan tenang atau lari-lari di stasiun sambil bawa koper.
Gue masih baca berita viral kadang-kadang. Enggak munafik. Tapi sekarang gue baca dengan sadar, di waktu yang gue pilih, bukan di waktu yang dipilih algoritma. Dan enggak pernah lagi sambil berdiri di antrean boarding.